Sudah 64 tahun bangsa ini merdeka,namun harus kita akui bahwa bangsa kita sangat tertinggal dibanding negara-negara lain berdasarkan laporan dari United Nations Development Programme (UNDP), di tahun 2005 lalu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 107 dunia, persis di bawah Palestina yang berada di peringkat 106. Negara-negara Asia Tenggara lain bahkan jauh meninggalkan...

Sudah 64 tahun bangsa ini merdeka,namun harus kita akui bahwa bangsa kita sangat tertinggal dibanding negara-negara lain berdasarkan laporan dari United Nations Development Programme (UNDP), di tahun 2005 lalu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 107 dunia, persis di bawah Palestina yang berada di peringkat 106. Negara-negara Asia Tenggara lain bahkan jauh meninggalkan Indonesia. Singapura berada di peringkat 25, Brunei Darussalam di peringkat 30, dan Malaysia di peringkat 63. Ketiga negara tersebut tergolong high human development.
Di jajaran negara-negara medium human development, Thailand menduduki peringkat 78 kemudian Filipina di peringkat 90, dan Vietnam di peringkat 105. Di antara negara-negara Asia Tenggara hanya dua negara yang menduduki peringkat di bawah Indonesia yaitu peringkat 131 untuk Kamboja dan 132 untuk Myanmar.
Sejak tahun 1990, IPM digunakan untuk mengukur perkembangan masyarakat suatu wilayah dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu aspek kesehatan atau harapan hidup, aspek pendidikan, dan aspek kualitas hidup. 
Tidak dipungkiri bahwa kesehatan adalah fundamental dalam mendukung aspek pendidikan dan aspek kualitas hidup manusia seutuhnya, mulai dari anak sampai lanjut usia.
Di lain pihak memasuki era milenium ketiga tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks yang dipengaruhi oleh dinamika perubahan yang terjadi di dalam negeri serta proses globalisasi dunia yang begitu cepat. Kehidupan di masa depan yang akan semakin kompleks, dinamis, penuh peluang sekaligus tantangan tersebut harus segera diantisipasi, salah satunya adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan masa depan. Anak adalah anugerah, karunia dan amanah yang tidak boleh diabaikan, menurut hasil perhitungan BPS (2000) jumlah anak Indonesia usia 0-18 tahun sudah mencapai 64 juta anak atau 30% dari jumlah penduduk Indonesia dan masa depan bangsa akan ditentukan oleh anak-anak kita sekarang. 
Perhatian terhadap kesehatan anak inilah yang harus menjadi prioritas utama sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal sehingga menjadi potensi sumber daya yang luar biasa di masa depan. 
Pengabaian segala upaya pengentasan masalah kesehatan, akan menghancurkan masalah bangsa terutama terhadap anak-anak kita yang masih mempunyai beberapa problem kesehatan,diantaranya :

1. Masalah gizi
Rendahnya tingkat ekonomi dan pendidikan menyebabkan hingga saat ini masalah gizi merupakan problem yang banyak kita dapatkan.Di Indonesia minimal ada empat kasus yang sering, yaitu kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, kekurangan yodium dan kurang vitamin A. KEP merupakan masalah gizi yang paling banyak terjadi, terbukti dengan masih banyak ditemukannya anak balita (usia 1-5 tahun) penderita KEP berat (marasmus dan kwashiorkor).
Kwashiorkor disebabkan oleh kekurangan protein dan diderita bayi usia enam bulan dan anak balita. Sedang penyebab marasmus adalah kekurangan kalori dan energi atau gejala kekurangan pangan secara keseluruhan (kelaparan).
Menurut kajian ilmiah, bahwa 50 % perkembangan kecerdasan anak akan terjadi pada masa usia 0-4 tahun, masa ini sering disebut masa golden age (usia emas) yang merupakan the point of no return . Perkembangan otak tidak bisa diperbaiki bila mereka kekurangan gizi pada masa ini. Pertumbuhan fisik dan intelektualitas anak akan terganggu. Hal ini menyebabkan mereka menjadi generasi yang hilang, dan negara kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Situasi rawan gizi pada anak balita dan usia sekolah tidak boleh dipandang sebelah mata, karena menimbulkan akibat lanjutan yang kompleks dan berujung pada degradasi kualitas sumber daya manusia. Hal itu karena masalah gizi yang parah pada usia muda akan menghambat laju tumbuh kembang keadaan fisik anak. KEP berkelanjutan membuat anak menderita marasmus-kwashiorkor. Kekurangan yodium dalam jangka panjang dapat menimbulkan gondok endemik, bahkan mengakibatkan kretinisme atau cebol.
Anemia zat gizi besi berkepanjangan menghambat pertumbuhan fisik, meningkatkan risiko penyakit infeksi, bahkan menghambat aktivitas kognitif dan daya tahan fisik. Akibat buruk dari kekurangan gizi ini akan meningkatkan jumlah anak dengan tinggi badan terhambat, 10 cm lebih pendek dibandingkan anak sehat berusia sama.
Kasus malnutrisi akan menghambat perkembangan kecerdasan yaitu menyebabkan Indonesia kehilangan lebih dari 200 juta angka potensi IQ/tahun (30 persen dari peluang produktivitas).
Pada penderita gizi buruk, struktur sel-sel tubuh tidak tumbuh sempurna. Misalnya jumlah pertumbuhan sel otak tidak maksimum, terjadinya jantung koroner, serta rusaknya pankreas yang mengakibatkan insulin tidak berfungsi optimal sehingga anak menderita diabetes.



2. Masalah penyakit Infeksi
Di negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang relative masih kurang, maka kasus penyakit infeksi masih merupakan ancaman terhadap anak kita,baik infeksi akut seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut),Pneumonia (radang paru),Gastroenteritis (Diare) maupun infeksi kronis seperti Tuberculosis (TBC),Hepatitis,TORCH,HIV dll
Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan menyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
Berpijak dari kebutuhan tumbuh kembang anak yang optimal maka kita wajib memfokuskan kesehatan anak sehingga program pendidikan dapat berjalan lancar. Untuk itulah tindakan proaktif yang meliputi preventive dan kurative terhadap kesehatan anak harus menjadi kebutuhan primer. Salah satu aktualisasi dalam kegiatan Preventive adalah Screening kesehatan anak atau lebih dikenal dengan istilah Medical check up (MCU).
Laboratorium Klinik Pramita yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun juga melayani MCU untuk anak-anak.Manfaat yang didapatkan selain melihat kondisi kesehatan secara umum juga dapat membantu mendeteksi awal abnormalitas fungsi-fungsi organ seperti fungsi otak,fungsi pendengaran,fungsi jantung,fungsi paru dan organ lain.MCU juga bermanfaat untuk melihat apakah ada faktor infeksi baik yang didapat dari luar atau sejak lahir,demikian juga dapat dimanfaatkan untuk screening gangguan metabolik atau kelainan organik lain.Pentingnya deteksi kasus infeksi ini karena seringkali infeksi bersifat silent atau laten sehingga kadang-kadang tidak manifest,jadi jika terdeteksi dari awal maka penanganan akan lebih baik dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah.

 

Sumber : www.pramita.co.id