Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur

RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo

logo rskd1

PENTING DIKETAHUI BUMIL TENTANG CAIRAN KETUBAN

Tedy Teguh S, Sp.OG(K)

Spesialis Kandungan di RSUD Kanujoso Djatiwibowo  Balikpapan

Salah satu parameter penting kesehatan janin dalam rahim adalah cairan ketuban. Berkurangnya cairan ketuban bisa mengganggu tumbuh kembang janin, bahkan habis nya air ketuban bisa mengakibatkan kematian janin dalam rahim.

Selama kehamilan, bayi tumbuh di dalam kantong berisi cairan di dalam rahim. Kantong itu disebut sebagai kantung ketuban, yang isinya cairan ketuban/amnion.

Cairan ketuban memiliki beberapa fungsi utama, yakni :

  1. Melindungi bayi dari tekanan dan  melindungi dari infeksi
  2. Memberi makan bayi dan membantu perkembangan sistem paru-paru dan pencernaan
  3. Serta menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat. Terlalu banyak atau terlalu sedikit cairan ketuban, dapat menjadi tanda adanya masalah pada janin atau plasenta.

Berkurangnya cairan ketuban bisa terjadi karena selaput ketuban pecah (ketuban pecah dini), kelainan plasenta (infark plasenta, tumor plasenta), kelainan organ janin (kelainan pencernaan, saluran kencing),  penyakit ibu (misal hipertensi, diabetes, penyakit auto imun), Dan usia kehamilan lewat bulan.

Penting bagi ibu hamil untuk mengenal apa tanda-tanda berkurang nya cairan ketuban.

Ciri-ciri ketuban pecah dini :

  1. Ada Cairan Merembes atau menetes Keluar Dari Vagina yang rasanya tidak bisa ditahan
  2. Cairan terasa hangat dan encer
  3. Ibu hamil juga akan merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam perutnya. Sesuatu yang pecah itu seperti gelembung yang kemudian meletus. Sesuatu yang dirasakan pecah tersebut terjadi ketika akan ada air ketuban yang pecah dan keluar. Banyak wanita atau ibu hamil akan kaget dengan suara itu. Suara itu juga banyak yang membuat ibu hamil menjadi gugup.
  4. Sakit ketika Kontraksi rahim mulai terjadi.

Hal yang Harus Dilakukan Ibu Hamil Ketika Air Ketuban Pecah

Apabila bumil merasa adanya cairan yang berlebihan dari kemaluan (curiga ketuban pecah), sebaiknya bumil jangan panik. Yang harus dilakukan ibu saat mengetahui air ketubannya pecah :

  1. Catat waktu Air Ketuban Pecah
  2. Hubungi keluarga terdekat
  3. Berbaring, untuk mencegah air ketuban keluar lebih banyak
  4. Temui petugas medis

Keluarnya cairan berlebihan Dari kemaluan bisa di curigai sebagai cairan ketuban, bumil harus segera ke rumah sakit untuk memastikannya. Di RS dapat dilakukan tes lakmus untuk memastikan apakah cairan tersebut cairan ketuban atau bukan. Selanjutnya dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menilai indeks cairan ketuban. Mengapa air ketuban bisa berubah warna keruh atau hijau.

Normalnya cairan ketuban berwarna jernih, tapi selama kehamilan atau proses persalinan warna cairan ketuban bisa menjadi keruh atau kehijauan. Air ketuban hijau diakibatkan oleh keluarnya mekonium yaitu kotoran janin ke dalam cairan ketuban. Keluarnya kotoran janin ini disebabkan oleh stres yang dialami janin dalam proses persalinan. Pada umumnya, air ketuban hijau tidak berdampak apapun pada janin dengan syarat detak jantung janin selama proses persalinan tetap baik.

Namun Ada beberapa  penyebab ketuban hijau yang bila tidak segera terdeteksi dapat membahayakan janin, seperti:

    1. Infeksi. Infeksi yang terjadi ketika kehamilan bisa diakibatkan karena air ketuban yang pecah, sehingga harus segera dilakukan proses persalinan. Namun jika hal tersebut tidak di tindaklanjuti, maka akan mengakibatkan gangguan pada bayi yang ada di dalam kandungan.
    2. Kehamilan yang melebihi 42 minggu. Ketika masa kehamilan melebihi waktu persalinan, yang seharusnya terjadi di minggu ke-37 sampai minggu ke-42, maka plasenta akan lebih tua serta tidak akan berfungsi seperti mestinya, dan hal ini akan menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada bayi yang ada di dalam kandungan. Bila tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian janin.
    3. Gangguan pada janin.Salah satu kasus yang kerap terjadi yaitu kurangnya pasokan oksigen dari ibu yang dikarenakan tali pusar menjadi melilit, sehingga mengakibatkan bayi stress.
    4. Penyakit ibu Hipertensi, diabetes dan penyakit autoimun dapat merusak pembuluh darah plasenta sehingga pasokan oksigen ke janin berkurang.

Ibu hamil yang diduga kehamilan lewat bulan, menderita hipertensi, diabetes harus rutin pemeriksaan USG untuk menilai kecukupan atau volume cairan ketuban. Pemeriksaan USG tidak bisa membedakan perubahan warna air ketuban ( ketuban hijau), hanya menilai apakah cairan ketuban cukup, berkurang atau habis. Hasil penilaian USG ini penting untuk menentukan tindakan apa yang dilakukan terhadap kehamilan.