Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur

RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo

logo rskd1

PENYAKIT ZIKA PADA IBU HAMIL

Oleh dr.Tedy TS, SpOG(K) – RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

Di seluruh belahan dunia saat ini sedang gencar mencegah dan mendeteksi merebaknya penyebaran virus Zika. Termasuk Indonesia yang potensial untuk penyebaran virus Zika, karena Indonesia termasuk Negara tropis dan vektor virus Zika sama dengan virus Dengue, yaitu nyamuk Aedes Aegepty yang sudah menjadi endemis di Indonesia, termasuk Balikpapan. Kota Balikpapan sebagai pintu gerbang Kalimantan harus waspada karena virus zika telah terdeteksi di Singapura dan Malaysia.

Sebagaimana dikatakan dalam laman Depkes RI, kasus kematian dari penyakit Zika ini terbilang sangat kecil. Kebanyakan kematian tidak berasal dari kasus Zika secara tunggal, tetapi akibat dari komplikasi. Selain itu penyakit ini sebenarnya secara alami akan sembuh dalam waktu 7 – 12 hari apabila system kekebalan tubuh bekerja dengan baik. Jadi selama Anda melakukan peningkatan system kekebalan tubuh pada masa serangan, penyakit ini sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa risiko komplikasi. Bahkan serangan infeksi virus bisa dicegah meskipun Anda sudah terpapar virus bila kondisi daya tahan tubuh optimal.

Namun berbeda halnya bila infeksi virus Zika terjadi pada ibu hamil, harus menjadi perhatian khusus. Hal ini disebabkan karena ditemukannya peningkatan kasus kelainan bawaan berupa mikrosefali (cacat pertumbuhan otak) yang terjadi pada bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi. Mikrosefali merupakan kelainan bawaan dimana si bayi terlahir dengan ukuran kepala yang lebih kecil dibandingkan dengan ukuran pada umumnya. Ukuran kepala si bayi tidak proporsional dengan ukuran tubuhnya. Ibu hamil yang positif memiliki virus Zika kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya. Selanjutnya Virus Zika akan menyerang jaringan otot dan system saraf termasuk system saraf pusat di otak dari janin mengakibatkan gangguan perkembangan otak janin.

Menurut laman Depkes RI, walau hubungan infeksi virus Zika pada ibu hamil dengan kejadian cacat mikrosefalus pada bayi yang dilahirkan belum terbukti secara ilmiah, namun bukti kearah itu semakin kuat. Dalam temuan di Brazil dengan kasus Zika Virus yang tinggi pada tahun 2015, terjadi peningkatan signifikan kasus bayi yang lahir dengan cacat mikrosefalus. Berdasarkan data pada tahun 2015, di Brazil secara keseluruhan ditemukan kasus Zika hingga ribuan temuan dengan 500 lebih kasus diderita oleh ibu hamil pada bulan Desember lalu. Dan dari angka tersebut ditemukan 150 kasus ibu hamil yang akhirnya melahirkan bayi dengan mikrosefalus. Menurut pemberitaan CNN secara total diperkirakan ada peningkatan bayi dengan mikrosefalus hingga 4000-an kasus sepanjang tahun 2015 hingga Januari 2016 ini.

Berdasarkan data diatas, Indonesia harus waspada untuk mendeteksi dini dan mencegah penyebaran Virus Zika, Karena tingginya populasi penduduk usia reproduksi aktif dan angka kehamilan di Indonseia masih tinggi. Bila Virus Zika menjadi endemics di Indonesia seperti halnya demam berdarah Dengue bisa dibayangkan akan menjadi ancaman serius kualitas generasi penerus bangsa Indonesia.

Virus Zika belum ada pengobatan yang spesifik dan belum ada vaksin pencegahannya, maka tindakan pencegahan adalah upaya yang paling ampuh menghindari penyakit Zika. Mengingat risiko dari virus ini pada ibu hamil yang begitu besar, maka ibu hamil dianjurkan melakukan hal ini: 

  1. Ibu hamil sebaiknya tidak melakukan perjalanan kedaerah yang sudah mewabah virus Zika. Bahkan sebagian Negara sampai menerapkan anjuran pada warga wanita untuk menunda kehamilannya bila didaerahnya sudah mewabah Virus Zika.
  2. Segera melakukan pemeriksaan bila terdapat keluhan demam, batuk, ruam merah dikulit.
  3. Segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin tumbuh kembang janin dengan pemeriksaan USG.
  4. Meningkatkan daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat seperti diet seimbang. Sebelum virus Zika menyerang, mikrosefalus pada umumnya disebabkan dan dipengaruhi oleh beberapa factor seperti down syndrome, konsumsi alkohol, paparan obat yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan dan infeksi rubella (campak jerman) selama masa kehamilan.
  5. Dengan melakukan skrining dini lebih cepat mendeteksi dan mencegah gangguan tumbuh kembang janin lebih berat.